Kamis, 09 Januari 2014

4 Jurus Beli Saham Ala Lo Kheng Hong

LO KHENG HONG : JADIKAN SAHAM SEPERTI MESIN ATM

Minggu, 24 Februari 2013


Liputan Khusus Kontan 29 Agustus 2012. Sukses dan nama besar Warren Buffet di dunia investasi menuai kekaguman dari pemain saham di penjuru dunia. Tak sedikit investor yang menjadikan Buffet sebagai panutan, mempelajari strategi investasinya, dan menerapkannya. Di Indonesia, salah satu yang terinspirasi oleh Buffet adalah Lo Kheng Hong.
Pria berusia 53 tahun ini berpegang pada metode analisis fundamental Buffet. Ia tak bergeming dan tak pernah sekali pun mencoba jurus investasi saham lain.
Bagi Lo, Buffet adalah gurunya. Ia hafal di luar kepala banyak petuah Buffet, kisah hidup
sang maestro, bahkan menghormati prinsip hidupnya. Rupanya tak sia-sia Lo membaca puluhan buku ‘ajaran’ Buffet, ia menarik pelajaran dari situ dan hasilnya? Lo telah memetik keuntungan besar dari bursa saham.  Keuntungannya dari saham berlipat ribuan persen.
Nafkah hidupnya pun hanya berasal dari saham. Ia mengaku tak punya usaha atau pekerjaan apapun selain berinvestasi saham. Tak heran, pelaku bursa banyak menjuluki ayah dua orang anak ini sebagai Warren Buffet-nya Indonesia.
Simak kisah, pandangan hidup, dan strategi investasi Lo dari pengakuannya sendiri kepada KONTAN berikut.
Saya ini hanya seorang investor, 100% uang saya taruh di saham.
Jadi saya tidak bekerja dan saya tak punya kantor. Saya hanya punya satu sopir untuk mengantar-antar saya dan dua pembantu di rumah. Saya bangga jadi investor saham. Kalau ...>>>
mengisi formulir, misalnya di bank pun, saya selalu tulis profesi saya investor saham.
Saya ini sudah berinvestasi saham selama 23 tahun. Tentu saja tidak semua investasi saya berhasil, saya pernah jatuh. Saya juga tidak langsung pintar.
Semakin lama orang bermain saham, dia bisa belajar dari kesalahannya dan akan semakin terlatih.  Saya percaya, orang yang berhasil itu adalah orang yang jatuh tapi bangun lagi.
Pertama kali saya membeli saham tahun 1989. Berapa modal awal saya? Nol. Waktu itu saya masih karyawan Bank Ekonomi, jadi saya hanya menyisihkan sedikit demi sedikit dari gaji saya. Kalau orang lain membelanjakan penghasilannya untuk macam-macam, saya belanjakan sebagian gaji setiap bulan untuk membeli saham.
Saya ingat, di awal saya invest, saya mengantre untuk membeli saham penawaran perdana (IPO) PT Gajah Surya Multifinance. Antrenya panjang sekali. Saya semangat membeli, eh nggak tahunya begitu listing saham itu jeblok. Hahaha...
Tapi saya tetap yakin dan terus berinvestasi sampai akhirnya pendapatan dari saham bisa menghidupi saya. Ketika saya sudah merasa cukup, pada tahun 1996, saya berhenti dari Bank Ekonomi pada saat saya sudah jadi Kepala Cabang.
 Ada empat alasan kenapa saya memilih menjadi investor saham.
Pertama, investor saham bisa menjadi orang terkaya di dunia. Contohnya? Ya, Warren Buffet. Saya belajar dari dia. Selama 10 tahun terakhir ini, saya sudah baca 40-an buku tentang Buffet. Buku itu tak hanya saya baca sekali, tapi saya ulangi dua tiga kali, benar-benar saya pahami isinya.
Kedua, keuntungan perusahaan itu hak si pemegang saham. Bayangkan, yang bekerja direksi dan karyawan, tapi begitu untung yang menerima pemegang saham. Enak kan? Membeli perusahaan yang untung besar itu seperti membeli mesin pencetak uang.
Ketiga, dalam jangka panjang imbal hasil saham lebih tinggi dari instrumen investasi lainnya, seperti obligasi, emas, dan properti.
Keempat, jadi investor itu waktu luangnya banyak. Anda tahu, di dunia ini ada empat macam manusia. Tipe pertama,  orang yang punya banyak waktu tapi tidak punya uang. Contohnya, orang pengangguran.
Tipe kedua,  yang punya banyak uang tapi tidak punya waktu. Yang ini biasanya para pengusaha. Lalu tiga, orang yang tidak punya waktu dan tidak punya banyak uang juga. Ini kebanyakan para pegawai yang bergaji kecil.
Tipe terakhir, orang yang punya waktu dan punya uang. Tipe terakhir inilah yang saya inginkan sebagai investor saham. Orang bilang, time is money. Buat saya tidak, waktu lebih berarti dari uang. Uang bisa dicari, tapi uang tidak bisa mengembalikan waktu.
Sekarang saya merasa punya banyak waktu. Saya bisa travelling menjelajahi berbagai kota di lima benua. Sekali saya pergi, tidak sebentar lho, saya bisa tinggal sampai sebulan di sana.
Tapi saya juga memanfaatkan waktu saya untuk membaca. Setiap pagi, bangun, lalu saya pergi ke taman, duduk membaca dan berpikir. Itu hobi saya. Laporan keuangan itu makanan sehari-hari. Saya juga berlangganan empat koran, tiga di antaranya koran bisnis termasuk KONTAN. Semuanya saya baca dari halaman satu sampai habis.
Sering saya baru mandi jam satu, kemudian keluar, kadang pergi ke sekuritas. Saya ini manusia gaptek. Saya tidak punya laptop, tidak mengerti apa itu email atau internet apalagi online trading. Jadi saya membeli saham selalu lewat telepon kepada beberapa sekuritas. Saya tidak takut kehilangan momentum meskipun membeli lewat telepon, kan saya bermain saham untuk jangka panjang.
Dalam berinvestasi, saya berusaha membeli perusahaan yang bagus di harga murah dan saya simpan.
Saya punya lima kriteria untuk membeli perusahaan publik.
Pertama, lihat manajemennya apakah dikelola orang yang jujur, profesional, berintegritas, dan saya kagumi. Jarang sekali orang membeli saham dengan melihat ini, biasanya orang hanya lihat laporan keuangan. Tapi bagi saya, kalau dalam properti itu ada istilah lokasi, lokasi, lokasi, dalam ekuiti itu harus manajemen, manajemen, manajemen.
Kedua, perhatikan usahanya. Di masa depan akan seperti apa bisnis itu? Memang, hari esok itu misteri. Tapi saya sendiri berpendapat, masa depan itu ditentukan juga dari masa lalu. Bagi perusahaan yang sudah memenuhi syarat pertama tadi, kita bisa lihat masa lalunya dalam jangka panjang misalnya 5-10 tahun ke belakang. Kalau itu untung, kemungkinan ke depan juga akan untung.
Ketiga, cari perusahaan yang labanya besar.  Hitung berapa besar profit margin-nya dan return on equity-nya (laba per saham).
Keempat, pilih perusahaan yang terus bertumbuh dalam jangka panjang.
Kelima, cermati valuasi dari PER (price earning ratio) atau PBV (price to book value), bandingkan dengan kompetitornya. Belilah yang murah. Kesempatan emas untuk membeli saham bagus dengan harga murah tentu saja di tengah kondisi krisis. Saya selalu ikuti prinsip Buffet, be greedy when the others are fearful.
Dengan lima prinsip sederhana itu nyatanya saya berhasil.
Pada tahun 2005, saya membeli saham PT Multibreeder Adirama Indonesia Tbk (MBAI). Waktu itu harga perusahaan ternak ayam terbesar kedua di Indonesia ini baru Rp 250 per saham. Saya kumpulkan pelan-pelan sahamnya sampai akhirnya punya 8,29% saham. Tahun lalu, harga sahamnya sudah mencapai Rp 31.500, jadi naik 12.600%. Keuntungan itu saya realisasikan. Saham itu saya jual karena dia akan merger dengan PT Japfa Comfeed Tbk (JPFA).
Saya juga pernah punya saham PT Timah Tbk (TINS). Saya beli di tahun 2002 seharga Rp 285. Dalam dua tahun harganya naik ke Rp 2.900. Saya jual, tapi setelah saya lepas, dia terbang lebih tinggi lagi. Waktu itu ilmu memang belum tinggi. Begitu harga saham naik banyak, saya gemetar.
Menyesalkah saya? Begini, kalau investor saham tidak bijak, maka seluruh hidupnya akan berisi penyesalan. Jual sekarang, besok harga lebih tinggi lagi. Tahan, enggak tahunya harga turun terus.
Selain dua saham itu, saya pernah mendapat keuntungan cukup besar dari PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Gadjah Tunggal Tbk (GJTL), PT Charoen Pokphan Tbk (CPIN), PT Polychem Indonesia Tbk (ADMG), PT Japfa Comfeed Tbk (JPFA), PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK).
Sekarang, portofolio saya berisi sekitar 20-an saham dengan jumlah saham maksimal 4%. Tidak banyak kelihatannya, tapi rata-rata perusahaan besar. Saya juga merotasinya. Kalau ketemu satu perusahaan bagus, maka saya cari mana di portofolio yang sudah menurun dan saya buang satu juga.
Saya juga pernah rugi.
Saya pernah rugi karena margin. Makanya sejak tahun 1998 saya enggak pernah memakai fasilitas margin lagi.
Saya sekarang bebas utang. Pernah dengar kisah Jesse Livermore? Dia salah satu investor yang sangat sukses di jaman dulu. Dari tukang tulis papan bursa dia investasi saham dan jadi investor besar. Tapi dia berutang dan akhirnya ketika investasinya gagal, dia bunuh diri.
Saya tidak mau seperti itu. Kalau tidak punya utang, meskipun saham saya hancur, saya tidak apa-apa. Saya masih punya saham itu yang ke depan juga bisa naik lagi.
Karena itu, meskipun harga saham jatuh dan uang saya tinggal 15%, saya tetap membeli saham. Tentu saja istri tidak tahu...ha ha ha. Saya membeli saham United Tractors (UNTR), saham bagus yang harganya sudah murah sekali. Waktu itu pernah jatuh sampai Rp 125, tapi saya baru masuk di Rp 250. Padahal, laba operasi per sahamnya sudah 7.800.
Saya belikan semua sisa uang saya untuk satu saham itu. Dan benar, UNTR naik terus. Pada tahun 2004, saya akhirnya jual. Waktu itu harga UNTR Rp 1.350, tapi ini harga sesudah stock split. Kalau dihitung itu kira-kira setara Rp 15.000, jadi saya untung sekitar 6.000%.
Saya ini tidak sama dengan investor saham umumnya.
Saya tidak suka mengejar dividen. Menurut saya, lebih baik saya investasi pada perusahaan yang menggunakan devidennya sebagai modal kerja. Itu akan lebih memberi saya keuntungan.
Saya juga tidak mengejar saham-saham IPO. Dari pengalaman, kalau kita beli saham IPO, ketika sahamnya naik ternyata kita cuma dikasih beberapa lot saja. Tapi kalau jeblok, seringnya kita pesan berapa pun dikasih.
Saat ini, saya melihat IHSG bagus, sudah di atas 4.000 di kondisi krisis seperti ini.
Tapi bukan berarti semuanya mahal. Makanya investor harus melakukan pekerjaan rumahnya, risetlah mana yang masih murah. Saya sendiri sekarang memiliki saham di sektor perbankan, consumer goods, peternakan, sawit, bahkan batubara.
Sejauh ini, saya masih bermain saham di bursa dalam negeri. Tapi bulan depan saya rencananya akan pergi ke Yunani. Saya akan mendalami bursa di sana, pasti banyak saham bagus yang harganya murah. Ini kesempatan.
Terakhir, saran saya bagi investor sekarang: kerjakan PR.
Berapa banyak dari investor yang masih baca laporan keuangan? Berapa yang melakukan analisis fundamental? Membeli saham perusahaan tanpa melihat lima hal dasar yang saya sebut tadi itu dan hanya melihat chart menurut saya tidak benar, keliru, dan menyesatkan. Investor harus tahu apa yang dia beli.
Main saham itu juga bukan perkara hoki. Tuhan itu maha pengampun, tapi bursa saham tidak punya belas kasihan pada orang yang tidak tahu apa yang dia beli.

InvestorPemenang. Template Picture Window. Gambar template oleh Jason Morrow. Diberdayakan oleh Blogger.

天 時不如地利﹐地利不如人和 *) Sun Tzu. Faktor cuaca adalah kurang penting dibandingkan faktor daratan, dan faktor daratan kurang penting dibandingkan faktor manusia. Penafsiran praksisnya : Faktor situasional kurang penting dibandingkan faktor fundamental, dan diantara semuanya faktor manusia (mentalitas) yang terpenting.

Rabu, 08 Januari 2014

14 Saham Pilihan Sebelum & Sesudah Pemilu 2014


Headline
(Foto : inilah.com)
Oleh: Ahmad Munjin
pasarmodal - Kamis, 9 Januari 2014 | 04:07 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Sebelum pemilu 2014, IHSG diprediksi cenderung melemah ke bawah 4.000. Di sisi lain, indeks potensial menuju 5.000 pascapemilu. Inilah saham pilihan sebelum dan sesudah pemilu.
David Cornelis, Head of Research KSK Financial Group mengatakan, sektor konsumsi naik paling tinggi tahun 2013 sebesar 13,8%. Di sisi lain, yang terperosok paling dalam sebesar 23,3% adalah sektor pertambangan. “Kenaikan dan penurunan itu menghasilkan rerata IHSG yang minus 0,98% sepanjang 2013,” katanya kepada INILAH.COM.
Sebagai perbandingan, imbal hasil obligasi 2013 minus sebesar 10%. “Obligasi pemerintah yang turun paling besar, 12,35% sedangkan obligasi korporasi justru memberi keuntungan positif hampir 2%,” ujarnya.
Dengan kalkulasi sederhana, dengan 4 variabel utama, yaitu 2 variabel negatif (rupiah dan Inflasi) dan 2 variabel positif (pertumbuhan ekonomi dan BI Rate), selisihnya adalah sekitar 20%. “Maka dengan kata lain, IHSG setidaknya menawarkan imbal hasil impas sebesar 20%,” papar dia.
Imbal hasil tersebut ditambah dengan pertumbuhan keuntungan emiten sebesar 13%. Karena itu, target kenaikan IHSG seharusnya 33%. “Akan tetapi, yang terjadi malah IHSG termasuk yang jeblok terdalam di Asia, dengan diskon akhir tahun, turun 0,98%,” ungkap dia.
Hal tersebut, David menegaskan, hendaknya dicermati sebagai kesempatan pada awal tahun 2014 ini ketika IHSG terkoreksi.
Lebih jauh dia menjelaskan, di tengah penjualan bersih asing hampir Rp21 triliun, kapitalisasi pasar tahun lalu juga hanya naik 2,2% menjadi Rp4,2 kuadriliun. Angka tersebut masih hanya sekitar 60% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sedangkan Malaysia sudah 4,5 kali lebih besar. “Akibatnya IHSG masih bervolatilitas tinggi karena pasar yang cenderung kurang efisien,” tuturnya.
Tahun lalu, kata dia, Bursa Efek Indonesia berhasil menggalang dana dengan nilai emisi sebesar Rp16,7 triliun. “Akan tetapi, sekitar setengah dari jumlah emiten yang baru melantai lalu sahamnya malah bergerak negatif,” timpal dia.
Sektor defensive, lanjut David, cukup menahan kejatuhan IHSG. Namun, hanya 4 sektor saham yang positif, yaitu sektor konsumsi, perdagangan, properti dan infrastruktur. “Turunnya IHSG lebih banyak disumbangkan oleh emiten berorientasi impor dan yang penjualannya sensitif terhadap faktor global,” tandas dia.
Dia atas semua itu, David menyodorkan 14 saham di tahun 2014 yang terbagi menjadi 2 tema investasi yakni sebelum dan sesudah Pemilu.
Sebelum Pemilu (semester I-2014), David memperkirakan, IHSG cenderung bergerak ke bawah level 4.000. “Sebaiknya investor memilih sektor saham defensif,” ucapnya.
Untuk saham-saham defensif, David menyodorkan tujuh saham pilihan. Saham-saham tersebut adalah PT Gudang Garam (GGRM), PT Jasa Marga (JSMR), PT Perusahaan Gas Negara (PGAS), PT Ramayana Lestari Sentosa (RALS), PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM), PT United Tractor (UNTR), dan PT Unilever Indonesia (UNVR).
Sedangkan sesudah Pemilu (semester II-2014) IHSG berpotensi kembali menuju level 5.000. Lalu tesis investasi berpindah ke sektor saham siklikal, seperti PT Alam Sutera Realty (ASRI), PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), PT Bank Mandiri (BMRI), PT Ciputra Surya (CTRS), PT Indocement Tunggal Prakarsa (INTP), PT Pembangunan Perumahan (PTPP), dan PT Semen Indonesia (SMGR).
Tahun 2014 adalah tahun tematik politik. “Don Lucchesi pernah berkata bahwa “Keuangan adalah pistol. Politik adalah mengetahui kapan harus menarik pelatuk!” imbuh David mengutip Don Lucchesi. “Finance is a gun. Politics is knowing when to pull the trigger.” [jin]

Sabtu, 04 Januari 2014

Cara Beli Saham


Cara Beli Saham ternyata cukup mudah jika kita tahu caranya.  Berikut adalah penjelasan lengkap mengenai cara beli saham.
Bagaimana membeli saham?  Bagaimana cara melakukan Investasi Saham?
Sebelum anda membeli saham atau melakukan investasi saham, anda harus membuka rekening terlebih dahulu pada sekuritas yang terdaftar sebagai anggota bursa di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Saat ini sudah banyak sekuritas yang menawarkan jasa online melalui internet (online trading), dimana anda perlu download software terlebih dahulu.  Ada bagusnya anda memilih sekuritas yg menyediakan layanan tersebut, sehingga dengan begitu anda akan semakin leluasa dalam bertransaksi dan memantau data-data yang ada selama perdagangan.
Dengan online trading, kita mempunyai pemantauan yang lebih baik untuk pergerakkan bursa, melakukan sell atau buy sendiri tanpa tergantung dengan pihak lain, sehingga dapat memberikan flexibilitas dan respons terhadap pergerakan pasar lebih cepat serta menghemat waktu dan biaya.
Sekuritas-sekuritas yang telah memiliki layanan online trading, diantaranya :
Saham yang diperjual belikan di bursa indonesia ada berbagai jenis  saham dan dijual dengan satuan lot yang berisi 500 lembar saham.
Jadi misalnya anda membeli saham PT A sebanyak 2 lot  yang saat ini di perdagangkan dengan  Share Price (harga saham) Rp. 150,-
Maka dana yang anda butuhkan secara perhitungan adalah:
( Rp 150,- x 2 x 500 ) + broker fee = Rp 150.000,- + broker fee
Broker fee untuk online trading biasanya sekitar 0,15%-0,2% dari nilai transaksi untuk beli dan 0,25%-0,3% dari nilai transaksi untuk jual.
Untuk memaksimalkan keuntungan sebaiknya kita mempunyai landasan trading system untuk mengetahui kapan waktu kita beli, berapa lama kita hold, dan kapan waktu kita jual.






Jumat, 03 Januari 2014

Cara Membeli Saham IPO (Initial Public Offering)


Berikut tata cara atau prosedur untuk membeli saham perdana atau saham IPO.
1. Mendatangi gerai penawaran umum
Disana anda mengisi formulir pemesanan saham disertai identitas diri serta membuka rekening efek di perusahaan efek (sekuritas) yang menjadi penjamin emisi.
2. Melalui Perusahaan efek penjamin emisi
Bagi anda yang telah menjadi nasabah perusahaan efek penjamin emisi, anda cukup memesannya melalui broker anda. Apabila belum menjadi nasabah, maka anda bisa menjadi nasabah terlebih dahulu dengan menghubungi broker (sales) perusahaan efek tersebut. Setelah menjadi nasabah, maka anda dapat memesan saham IPO tersebut.

Ingin Menjadi Nasabah Sekuritas? Dan Membeli Saham IPO? Hubungi :


PT MANDIRI SEKURITAS

M. Arief Kurnia

HP : 0853 1236 0222

Office : 021-7591 8405

PIN BB : 2342025B

About these ads

Senin, 30 Desember 2013

Tips Memilih Broker Saham Terbaik


Untuk bisa melakukan transaksi saham sendiri di BEI (Bursa Efek Indonesia), Anda harus menjadi nasabah perusahaan pialang, sekuritas atau broker. Perusahaan ini akan menjadi perantara antara Anda dan BEI. Setelah membuka rekening di perusahaan pialang, Anda harus menyetor uang senilai jumlah tertentu. Setelah itu Anda baru bisa bertransaksi saham.
Memilih Broker Saham Terbaik
Yang menjadi masalah biasanya ada pada pemilihan broker. Ada banyak sekali broker yang menjadi anggota BEI pada saat ini. Ratusan jumlahnya. Berikut ini adalah beberapa hal yang bisa menjadi pertimbangan Anda dalam memilih sekuritas.
  1. Pastikan broker pilihan Anda tercatat sebagai anggota BEI (Bursa Efek Indonesia). Anda dapat melihat daftar lengkap anggota bursa di website BEI, yaitu www.idx.co.id.
  2. Jika Anda membutuhkan keamanan lebih, Anda bisa mempertimbangkan untuk memilih broker pelat merah, yaitu broker yang dimiliki oleh pemerintah. Cuma biasanya broker pelat merah memberikan komisis transaksi yang besar.
  3. Jumlah setoran awal. Besarnya setoran awal bervariasi, mulai dari 10 juta rupiah – 50 juta rupiah. Besarnya setoran awal ini bervariasi karena ada sekuritas yang membidik mahasiswa, masyarakat awam dan ada pula yang membidik kalangan berduit.
  4. Berapa komisi transaksi. Untuk setiap transaksi, rata-rata komisi untuk pembelian saham antara 0,1-0,3%. Sedangkan komisi untuk penjualan saham antara 0,2-0,4%. Tentunya kita berusaha mencari komisi serendah mungkin. Tapi perhatikan ada kalanya komisi yang rendah memiliki minimal komisi per hari. Kalau ada minimal komisi per hari, Anda harus menghitung dengan benar berapa minimal transaksi yang perlu Anda lakukan per hari supaya impas dengan komisi. Hal ini akan mempengaruhi strategi harian Anda. Kalau modal Anda mepet, minimal komisi per hari bisa merugikan Anda. Nah, untuk mendapatkan komisi yang rendah, biasanya Anda bisa bernegosiasi dengan broker. Jika dana Anda cukup besar, Anda bisa mendapatkan komisi yang rendah. Apalagi sekarang marak trading secara online, biasanya online trading memberikan komisi yang relatif rendah.
  5. Apakah broker memberikan rekomendasi tertentu. Hal ini berguna bila Anda tidak bisa melakukan analisis saham sendiri.
  6. Bagaimana cara transaksi saham tersebut, jika ingin trading sendiri Anda bisa mempertimbangkan broker yang memberikan fasilitas online trading. Umumnya transaksi saham di semua sekuritas bisa dilakukan di kantor broker tersebut atau via telepon. Bila Anda membutuhkan mobilitas, Anda bisa mempertimbangkan sekuritas yang memiliki fasilitas online trading, baik via internet, email, atau HP. Berikut adalah daftar lengkap broker saham yang menyediakan fasilitas online trading.
  7. Tiap online trading memiliki platform (software) trading sendiri. Pilihlah yang paling stabil, mudah dan nyaman Anda gunakan. Setiap online trading biasanya bisa di-download dari internet dan bisa dicoba walaupun Anda belum menjadi nasabah broker tersebut.
  8. Semua online trading biasanya menyediakan data real time. Anda membutuhkan data real time ini bila Anda ingin trading jangka pendek. Jika Anda investor jangka panjang, kemungkinan Anda tidak memerlukan data real time ini. Umumnya data real time ini tidak gratis. Biayanya berkisar 30 ribuan per bulan. Ada pula online trading yang tidak memungut biaya data ini, namun mengharuskan biaya transaksi yang Anda lakukan per bulan harus lebih besar dari 30 ribuan tersebut.
  9. Cek kelengkapan fitur, misalnya kelengkapan indikator Analisis Teknikal, berita, informasi laporan keuangan, riset saham, dan lain-lain. Semakin lengkap berarti semakin mempermudah Anda melakukan keputusan di dalam membeli atau menjual saham.
  10. Cek apakah ada fitur stop loss atau trailing stops. Tidak semua online trading menyediakan fasilitas ini. Fitur ini akan sangat membantu Anda di dalam trading untuk meminimalkan risiko. Stop loss dan trailing stops akan dibahas lebih lanjut di dalam buku ini.
Berbagai tips ini dikutip dari buku Jurus CUAN Investasi Saham Edisi Kedua
Ada ratusan broker saham, mencoba sendiri atau meriset satu persatu tentu akan memakan waktu dan tenaga. Untuk itu JurusCUAN.com ingin membantu dengan merekomendasikan salah satu broker yang kami anggap paling cocok untuk investor ritel, informasi lebih lanjut klik di sini.
regards
DW
http://www.juruscuan.com

BEI akan Terapkan Pelepasan Saham Berdasarkan Ekuitas

Jakarta (Antara) - Bursa Efek Indonesia (BEI) akan menerapkan peraturan pelepasan saham perusahaan ke publik melalui mekanisme penawaran umum perdana saham (IPO) berdasarkan ekuitas (kekayaan bersih perusahaan).
"Intinya untuk meningkatkan likuiditas. Makin rendah ekuitas perusahaan, jumlah saham yang beredar (free float) bisa semakin banyak, begitu pun sebaliknya," ujar Direktur Utama BEI Ito Warsito di Jakarta, Senin.
Ia mencontohkan ekuitas perusahaan nilainya di bawah Rp500 miliar maka batasan minimum yang dilepas ke publik sebesar 20 persen.
Sementara itu, untuk perusahaan dengan ekuitas senilai Rp500 miliar--Rp2 triliun, jumlah saham yang dilepas ke publik sebanyak 15 persen. Dan, ekuitas perusahaan sebesar Rp2 triliun ke atas sebesar 10 persen.
Ito mengatakan bahwa aturan itu akan diterapkan bagi perusahaan yang baru mengajukan IPO pada tahun 2014. Namun, bagi perusahaan yang sudah mengajukan IPO pada tahun 2013 belum dikenai peraturan itu.
Sebelumnya, Direktur Penilaian Perusahaan BEI Hoesen mengatakan bahwa aturan itu akan diterbitkan dengan tujuan untuk menambah jumlah saham yang beredar sehingga dapat meningkatkan likuiditas pasar modal domestik.
"Diskusi-diskusi sudah dilakukan terus-menerus, sekarang sudah tahap akhir," ucapnya.
Hoesen menambahkan bahwa perusahaan yang sudah tercatat di Bursa Efek Indonesia juga akan ada batasan minimum saham yang beredar.
Ia mengatakan bahwa ada sekitar 50 emiten yang melepas saham ke publik dalam porsi kecil. Melalui aturan itu, BEI yakin likuiditas di pasar saham akan meningkat nantinya. (ar)