Senin, 10 Februari 2014

Jasa Marga

Anda sebagai investor mungkin tidak bisa berinvestasi di JSMR ini jika hanya karena tertarik dengan prospek dari pembangunan ruas-ruas jalan tol baru milik perusahaan. Meski demikian, JSMR tetap menarik karena beberapa poin berikut:

  1. Membangun jalan tol memang sulit, namun setelah jalan tol tersebut jadi, maka kesananya JSMR tinggal panen pendapatan untuk jangka waktu yang amat lama. Dalam hal ini meski kita ambil kemungkinan terburuk bahwa proyek-proyek pembangunan jalan tol yang dikerjakan perusahaan ternyata gagal total, namun JSMR akan tetap terus menikmati pendapatan dari jalan-jalan tol yang sudah ada.
  2. Tarif jalan tol senantiasa naik dari waktu ke waktu, tanpa perusahaan perlu khawatir bahwa akan terjadi penurunan jumlah pengguna jalan tol. Dan hal ini otomatis menjamin bahwa pendapatan JSMR akan senantiasa naik dari tahun ke tahun, dengan tingkat kenaikan yang paling tidak lebih tinggi dari inflasi. Boleh dibilang JSMR bermain di sektor yang kebal terhadap krisis ekonomi, dan kinerja keuangannya sendiri dalam lima tahun terakhir memang menunjukkan hal tersebut.
  3. JSMR dikelola oleh tim manajemen yang kompeten dan bisa dipercaya. Pada akhir tahun 2012, perusahaan memperoleh skor 94.6 untuk GCG-nya, alias sangat baik. Dan kalau penulis pelajari cara penyusunan laporan keuangan perusahaan, JSMR ini juga sangat mirip dengan Astra International (ASII) dan juga Unilever (UNVR), dimana laporan keuangannya sederhana dan ‘bersih’.
  4. Nggak seperti BUMN-BUMN lain yang nyasar kesana kemari, JSMR sepenuhnya fokus hanya pada usaha jalan tol saja, dan itu tentu bagus.
  5. Untuk membiayai pembangunan jalan tol, sejak tahun 1983 JSMR secara rutin menerbitkan obligasi, dan sampai sekarang nggak pernah telat dibayar apalagi default. Obligasi itu sendiri mendapat peringkat AA dari Pefindo, alias sangat baik.

Seperti beberapa BUMN-BUMN lain seperti PLN, Pertamina, hingga Krakatau Steel, JSMR sebenarnya bermain di industri strategis, dimana kebutuhan masyarakat akan jalan tol tidak bisa ditawar-tawar lagi. Jika dimasa mendatang Pemerintah sukses membangun hingga 1,000 kilometer jalan tol sekalipun, maka jalan-jalan tol tersebut tetap akan dipenuhi oleh ribuan mobil setiap harinya. Dan untungnya JSMR memang kompeten dalam bidangnya tersebut. Kalau yang bisa penulis lihat sendiri, setiap kali ada ruas jalan tol yang rusak karena tanah longsor atau semacamnya, maka JSMR selalu bergerak cepat untuk memperbaikinya. Kualitas jalan tol di Indonesia juga sangat bagus, paling tidak jika dibandingkan dengan jalan raya biasa yang selalu berlubang setelah kebanjiran ketika tiba musim hujan, dan lagi-lagi orang PU sangat lambat dalam memperbaikinya.

Lalu bagaimana dengan sahamnya?

Pada Kuartal III 2013, laba bersih JSMR turun 16.2% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, namun itu karena pada sebelumnya tersebut perusahaan memperoleh pendapatan non operasional dari penjualan salah satu ruas jalan tolnya ke Citra Marga Nusaphala (CMNP), jadi bukan karena laba JSMR benar-benar turun. Dari sisi pendapatan, kinerja JSMR masih naik 31.2%, dan kenaikan ini seharusnya bisa dipertahankan mengingat mulai tahun 2014 mendatang, perusahaan bisa dipastikan akan menerima tambahan pendapatan dari Jalan Tol Tanjung Benoa.

Terkait kualitas fundamentalnya, terdapat setidaknya dua hal yang menyebabkan JSMR ini boleh dikatakan istimewa. Pertama, kinerja perusahaan hampir bisa dipastikan akan bertumbuh terus secara stabil, atau bahkan labanya akan melompat dalam dua tiga tahun kedepan, jika ruas-ruas jalan tol yang saat ini tengah dibangun pada akhirnya sukses beroperasi (dan dalam lima tahun terakhir, panjang ruas jalan tol yang dikelola JSMR juga memang terus bertambah bukan?). Dan kedua, perusahaan juga memiliki nama besar (brand equity), dimana jika anda tinggal di kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Denpasar, hingga Medan, maka anda akan rutin menggunakan jalan tol, sehingga anda tidak mungkin tidak tahu nama perusahaan yang satu ini.

Karena itulah, JSMR kemudian menjadi salah satu saham blue chip di bursa yang dihargai premium oleh investor, dimana JSMR senantiasa mencatatkan PER antara 15 – 20 kali (sebagai perusahaan mapan, valuasi JSMR bisa dilihat dari PER-nya). Penulis tidak ingat kalau saham ini pernah mencatatkan PER dibawah 15 kali, bahkan meski dulu (3 tahun yang lalu) sahamnya masih berada di level 3,000-an.

Sayangnya pada harga 5,000, PER JSMR ternyata masih cukup tinggi, yakni 24.9 kali. Penulis sebenarnya membahas saham ini karena tertarik dengan fakta bahwa JSMR sudah turun jauh dari puncaknya yakni 6,900, tapi bahkan pada harganya saat ini JSMR masih belum bisa dikatakan murah. Jika dibandingkan dengan beberapa blue chip kelas satu lainnya seperti ASII, BBRI, hingga PGAS, mereka semua mencatatkan PER kurang dari 15 kali, padahal kualitas kinerjanya relatif lebih baik. Jika pada tahun 2014 nanti laba JSMR melompat karena adanya tambahan pendapatan dari tol Tanjung Benoa, maka mungkin barulah harga JSMR pada saat ini boleh dibilang wajar, namun itu juga cuma asumsi bukan? Jadi kalau penulis sendiri lebih suka menunggu saham ini turun lebih rendah lagi, let say ke 4,000 – 4,300, kemudian baru masuk. Jika tidak maka yaa, masih banyak saham lain yang lebih menarik, baik dari sisi kualitas fundamental maupun valuasinya.

Tapi jika anda sukses masuk di harga 4,000-an tersebut, maka selanjutnya anda bisa duduk santai untuk waktu yang sangat lama. Plus, anda mungkin akan menjadi satu-satunya orang yang tersenyum lebar ketika nanti Jasa Marga mengumumkan bahwa tarif tol naik lagi, ketika orang lain justru marah-marah.

PT Jasa Marga (Persero), Tbk
Rating Kinerja pada Q3 2013: A
Rating saham pada 5,000: BBB

Rabu, 29 Januari 2014

Mengelola Uang Ala Keturunan Tionghoa

Sekitar 7 dari 10 orang terkaya di Indonesia dan beberapa negara di Asia Tenggara seperti Malaysia dan Filipina adalah keturunan Tionghoa. Tentu kesuksesan mereka tak lepas dari latar belakang budayanya.

Di saat Tahun Baru Cina ini, mari melongok nilai positif dari Kebudayaan Tionghoa, khususnya terkait pengelolaan uang. Apa yang membuat mereka sukses?

Saya yang bukan keturunan Tionghoa, banyak bergaul dengan mereka. Terutama saat di perguruan tinggi. Satu dari banyak rekan Tionghoa saya adalah pemilik perusahaan furnitur besar di Indonesia. Dari dia, saya banyak belajar budaya Tionghoa yang ia terapkan dalam bisnis dan mengelola uang.

Tak bisa dimungkiri, keturunan Tionghoa  yang sukses secara finansial memiliki beberapa prinsip dasar yang dipegang teguh. Baik dari agama maupun budaya leluhur mereka, walaupun kebudayaan aslinya akan melebur dengan kebudayaan lokal di mana mereka tinggal.

Hemat dan cermat dalam mengelola uang
Banyak yang berpendapat keturunan Tionghoa pelit. Sebenarnya tidak seperti itu. Mereka cermat mengeluarkan uang. Kalau saya menganjurkan 10-20% pendapatan disisihkan untuk tabungan masa depan, keturunan Tionghoa mampu minimal 50%.

Teks Cina klasik Dao De Jing menyatakan, tiga harta terbesar yang dapat dimiliki adalah cinta, berhemat, dan kemurahan hati. Berhemat merupakan bagian integral dari budaya Tionghoa. Materi seperti mobil atau rumah mewah tak mampu membuat mereka merasa nyaman secara finansial. Tapi, jumlah rekening tambun yang membuatnya merasa aman.

Takut Akan Ketidakpastian di Masa Depan
Ketika banyak masyarakat memilih hidup hanya untuk saat ini, orang Tionghoa justru takut terhadap ketidakpastian masa depan. Mereka berusaha menyambut kehidupan di kemudian hari dengan persiapan yang baik.

Hal ini berasal dari nilai Konghucu: "Di masa damai bersiaplah untuk perang”. Prinsip ini  kemudian diletakkan dalam perspektif untuk selalu bersiap-siap akan datangnya masa sulit, bahkan pada saat hidup berlimpah harta.

Mengerti Cara Membuat Uang Tumbuh
Menjadi masyarakat yang sangat gemar menabung menjadikan keturunan Tionghoa faham bagaimana cara membuat uang bekerja untuk mereka. Mereka tahu, menabung saja tidak membuat mereka sukses secara finansial.

Karena itu, mereka lebih senang berbisnis. Kalaupun bekerja, keturunan Tionghoa akan mencari produk keuangan yang memberikan imbal hasil paling besar. Mereka sadar, beda 0,5% saja akan memberi pengaruh besar dalam membentuk kekayaan secara jangka panjang.

Mengejar Jumlah
Kebanyakan keturunan Tionghoa tidak berbisnis yang canggih. Namun, yang dibutuhkan banyak orang. Bagi mereka, pada awalnya, prinsip yang dipegang adalah lebih baik cuan (untung) sedikit tetapi sering daripada untung besar namun hanya sekali.

Mereka juga menyadari untuk memiliki sumber pemasukan sebanyak mungkin dan pengeluaran seminim mungkin. Pebisnis Tionghoa akan terus mengembangkan bisnisnya pada berbagai instrumen sehingga memiliki multi income.

Tidak Berutang
Keturunan Tionghoa bangga untuk menjadi bebas utang.  Bagi mereka, meminjam uang dari teman atau bahkan kerabat adalah opsi terakhir dari masalah finansial.

Mereka malu berutang.  Bila tak bisa dihindari, mereka berusaha melunasinya segera. Kegagalan memenuhi kewajiban justru lebih memalukan. Mereka tidak akan berani menodai nama baik.

Tidak tabu membicarakan uang
Keturunan Tionghoa terbuka mengenai kondisi finansial. Mengungkapkan gaji atau pendapatan bukanlah sesuatu hal yang tabu. Bahkan bisa menjadi bahan pembicaraan di saat Anda baru saling mengenal.

Bukan tidak sopan. Namun, untuk menilai lebih jauh bagaimana seseorang hidup dengan suatu pendapatan dan pada akhirnya tahu siapa yang harus dibantu.

Selalu Menawar untuk Mendapat Nilai Terbaik
Di negara maju, saat kita menawar sering kali dianggap pelit. Di Cina, tawar-menawar adalah cara hidup. Jika Anda pernah mengunjungi negara tersebut dan masuk toko, sebaiknya tawar harga awal hingga 50-70%.

Walaupun belakangan ini banyak yang menerapkan "tidak ada tawar-menawar ", Anda tetap masih akan menemukan vendor lain yang bersedia negosiasi. Hal ini dilakukan demi mendapatkan harga terbaik dari barang yang ingin mereka miliki.

Memberi yang Terbaik Untuk Orang Tua dan Guru
Satu hal yang paling saya kagumi dari banyak keturunan Tionghoa adalah penghormatan terhadap orang tua dan guru karena dianggap berjasa. Tidak ada tawar-menawar untuk memberikan yang terbaik kepada mereka. Diyakini, berbakti kepada orang tua dan guru akan memberikan kedamaian dan kehidupan yang lebih baik.

Nah, jika kita ingin sukses, perbanyaklah belajar dari keberhasilan orang lain. Sepanjang tidak merugikan orang dan mendatangkan manfaat, mengapa tidak?

To Serenity,



undefined
Dwita Ariani, MM, RFA, RIFATwitter: @BundaWita
Financial educator dari Zelts Consulting

Selasa, 28 Januari 2014

Siapa Mesin Pencetak Uang Kekayaan Lo Kheng Hong?

Oleh Fiki Ariyanti

Posted: 29/11/2013 09:03
Siapa Mesin Pencetak Uang Kekayaan Lo Kheng Hong?
Liputan6.com, Jakarta : Salah satu investor kakap individu di pasar modal, Lo Kheng Hong menyebut perusahaan publik (emiten) merupakan mesin pencetak uang bagi 'Warren Buffet' asal Indonesia itu. Tak heran jika dia bisa mengantongi triliunan rupiah cukup dengan bermain saham.
"Bagi saya perusahaan publik yang punya untung besar adalah mesin pencetak uang. Apalagi kalau setiap tahun potensi investasi saham semakin besar, maka semakin cepat emiten itu mencetak uang," ujar dia di Jakarta, seperti ditulis Jumat (29/11/2013).
Hong menyebut dirinya sebagai investor value karena Bapak Investasi ini kerap berhitung secara detail mengenai nilai saham sebuah perusahaan sebelum menanamkan modalnya. Hal tersebut dilakukan agar dia dapat memperoleh keuntungan maksimal.
"Saya selalu menghitung harga saham, jumlah saham maupun nilai intrinsik saham dari perusahaan publik. Menghitungnya harus hati-hati karena kalau salah harga maka tidak akan mendapatkan keuntungan dari situ," jelasnya.
Mengutip pernyataan miliarder dunia Warren Buffet, dia mengatakan, enam jam waktu pengusaha investasi asal AS itu digunakan untuk membaca dan dua jam untuk menelepon.
Sedangkan sisanya dipakai untuk berpikir. "Jika kita bisa seperti itu, maka kita akan dekat dengan kekayaan," tutur Hong.
Hong salah satunya berinvestasi pada perusahaan pakan ternak, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dengan harga saham yang masih berada di level Rp 800 per lembar.
"Saya tidak punya kantor. Setiap pagi, siang, sore dan malam, saya duduk di taman mengumpulkan berita-berita soal emiten, menggunting dan mem-filling artikel-artikel tersebut serta memelototi laporan keuangan perusahaan publik," tandas dia. (Fik/Nrm)

loading comment box

Kamis, 23 Januari 2014

Mengintip saham pilihan para jawara

SAHAM PILIHAN



Mengintip saham pilihan para jawara
JAKARTA. Belakangan ini pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) cenderung menurun. Pergerakan IHSG terombang-ambing sentimen inflasi tinggi di dalam negeri dan arus uang global. Akhir pekan lalu (26/7), IHSG turun ke 4.658,87 (-0,33%).
Apapun kondisi bursa bukan menjadi penghalang bagi para jawara investasi saham untuk tetap mengais peluang. Sjambiri Lioe, seorang investor sekaligus Direksi PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA), menyarankan para investor tidak panik saat pasar bearish. Jangan sampai memasang posisi jual dan keluar penuh dari pasar saham.
Menurut dia, kondisi seperti sekarang justru harus dimanfaatkan untuk mengoleksi saham-saham berfundamental baik. Sebagai investor konservatif, ia mengaku lebih suka bermain aman dengan menambah portofolio saham-saham seperti BBRI, WSKT, dan PGAS. "Alasan saya sederhana, emiten BUMN diawasi banyak pihak dan pembagian dividennya jelas," tuturnya, Minggu (28/7).
Prinsip yang sama juga ditempuh Soeratman Doerachman, seorang investor saham kawakan. Sepanjang semester I 2013, dia mengaku menambah koleksi saham JSMR, PGAS, dan KLBF. Alasan dia: saham-saham tersebut memiliki fundamental bagus, kurang pesaing, dan labanya meningkat.
Aksi menambah isi portofolio ketika bursa melandai juga diambil Prodjo Sunarjanto Sekar Pantjawati. Investor saham yang kebetulan menduduki kursi Presiden Direktur PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) ini terus menambah saham sektor konsumer, khususnya sektor ritel dan bahan makanan. Bagi dia, saham sektor ini tahan banting. Saham yang dia hindari adalah saham sektor komoditas.
Lain lagi cerita Lo Kheng Hong, investor saham kawakan yang lain. Ia tidak mau mengikuti arus. Sebagai investor agresif, Kheng Hong ogah melirik saham-saham blue chips yang menjadi favorit kalangan komunitas pasar modal.
Valuasi saham favorit biasanya sudah mahal. Pada saham-saham yang mahal, menurut dia, risiko investasi justru meningkat. Ketika saham itu tertekan sentimen negatif, harga akan jatuh dan investor merugi.
Selama semester I 2013 Kheng Hong mengaku memperbanyak koleksi saham sektor yang sedang terpuruk, seperti sektor komoditas. Saat ini, harga saham-saham tersebut murah karena sedang dijauhi orang. Berinvestasi di saham ini juga cenderung low risk karena harganya tergolong murah. "Saya sendiri memilih beli dan simpan sambil menunggu harga komoditas pulih," imbuhnya.

Selasa, 21 Januari 2014

$ 58.51 x 12, 3 juta lembar saham = lebih dari $ 1 Billion

TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Operasional Facebook (COO) Sheryl Sanberg, kini menjadi wanita termuda di dunia yang memiliki kekayaan triliunan rupiah. Menyusul kenaikkan harga saham Facebook Inc. yang mencapai 58,51 dolar AS, Rabu 22 Januari 2013, kekayaan Sanberg meningkat hingga lebih dari 1 milliar dollar AS, lebih dari Rp 10 triliun.
COO perusahaan yang mengelola jaringan media sosial terpopuler di dunia ini memiliki 12,3 juta lembar saham perusahaan yang berkantor pusat di Menlo Park, California itu. Menurut Indeks Milioner Bloomberg, direktur berusia 44 tahun ini merupakan wanita termuda di dunia yang memiliki harta triliunan rupiah. 
"Apakah dia memang melakukan pekerjaan yang bernilai miliaran dolar? Saya tidak tahu," kata David Kirkpatrick, penulis buku "The Facebook Effect"
 yang menceritakan sejarah perusahaan itu. "Dia beruntung terdampar di perusahaan yang tepat."
Kekayaan Sanberg meningkat seiring perannya yang terus meningkat di kancah global. Kepala staf mantan Menteri Keuangan Amerika Serikat Lawrence Summer ini merupakan salah satu donatur Presiden Barack Obama. Dia direkrut dari Google pada 2008, dan menjadi wanita bergaji terbesar nomor tiga di dunia setelah Direktur Keuangan Oracle.inc Safra A. Catz dan Direktur Investasi dan Direktur Operasional Capital Management Inc. Wellington J. Denahan-Norris.
"Dia bergabung dengan Google, pindah ke Facebook, menulis buku, kini dia mungkin akan masuk kancah politik dan berhasil," kata Kirkpatrick.
Juru bicara Facebook Elisabeth Diana menolak berkomentar. Pekan ini Sanberg akan hadir di pertemuan tahun Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss.
BLOOMBERG.COM | PHILIPUS PARERA

Sabtu, 18 Januari 2014

Kaya dari Pasar Modal


Jumat, 30 November 2012 | 11:32
Superinvestor Lo Kheng Hong (kiri) memberikan kiat berinvestasi saham kepada para investor, disaksikan Musisi Piyu (tengah) dan dipandu moderator yang juga Pemimpin Redaksi Investor Daily Primus Dorimulu (kanan) saat Seminar Sesi II Investor Success Story pada Investor Summit 2012 di The Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta, Rabu (28/11). Kegiatan temu pelaku pasar modal yang diselenggarakan Bapepam-LK, BEI, KPEI, dan KSEI ini melibatkan 24 emiten, di antaranya menghadirkan investor yang sukses berinvestasi. Foto: Investor Daily/GAGARIN Superinvestor Lo Kheng Hong (kiri) memberikan kiat berinvestasi saham kepada para investor, disaksikan Musisi Piyu (tengah) dan dipandu moderator yang juga Pemimpin Redaksi Investor Daily Primus Dorimulu (kanan) saat Seminar Sesi II Investor Success Story pada Investor Summit 2012 di The Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta, Rabu (28/11). Kegiatan temu pelaku pasar modal yang diselenggarakan Bapepam-LK, BEI, KPEI, dan KSEI ini melibatkan 24 emiten, di antaranya menghadirkan investor yang sukses berinvestasi. Foto: Investor Daily/GAGARIN


Pada akhir 2002, kapitalisasi pasar di BEJ baru sebesar Rp 267,5 triliun. Tidak salah bila Lo Keng Hong, seorang superinvestor Indonesia, menyebutkan bahwa kekayaan terbesar ada di pasar modal. Karena itu, barang siapa yang ingin kaya, ia menganjurkan untuk berinvestasi di pasar modal. Sayangnya, kekayaan yang melimpah tersebut belum banyak dinikmati oleh penduduk negeri ini. Saat ini, kepemilikan saham investor domestic baru sekitar 40,6%, sedangkan 59,4% dimiliki asing.

Kita prihatin jumlah investor domestic tidak bertambah signifikan. Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) mencatat, saat ini investor domestic hanya sekitar 0,2% dari 240 juta jiwa penduduk Indonesia. Dibandingkan negara lain, keterlibatan investor domestik Indonesia tertinggal jauh. Di Hong Kong dan Singapura, misalnya, 30% penduduknya telah menjadi investor di pasar modal.

Kekuatan investor domestik sangatlah penting bagi pengembangan pasar modal ke depan. Selain pemerataan kekayaan, kehadiran investor domestik yang kuat bisa menjadi benteng saat terjadi pembalikan modal (sudden reversal).

Kita tentu tidak menginginkan investor asing mendikte pasar modal dan perekonomian negeri ini. Ke depan, kita berharap investor domestik bisa menjadi penopang utama pasar modal negeri ini. Untuk itu, para pemangku kepentingan harus meyakinkan kepada masyarakat bahwa investasi di pasar modal sangatlah menguntungkan.

Kita harus bisa mengubah paradigma yang terlanjur berkembang bahwa investasi di bursa saham sangat berisiko. Masyarakat Indonesia bisa belajar dari pengalamanan Lo Keng Hong yang sukses mendulang kekayaan dari pasar modal. Mantan pegawai tata usaha sebuah bank itu telah merasakan betapa pasar modal benar-benar membalik kehidupannya 180 derajat.

Saat ini, Keng Hong mengelola sekitar 30 jenis saham. Selama 13 tahun, nilai sahamnya rata-rata meningkat lebih dari 1.500 kali. Alhasil, pasar modal telah mengubah kehidupan Keng Hong dari pegawai kecil menjadi orang yang banyak uang. Tak salah pula kalau orang menyebut Keng Hong sebagai Warren Buffett Indonesia.

Kisah sukses Keng Hong tentu bukan tanpa syarat. Untuk sukses mendulang uang di pasar modal, kita harus benar-benar siap menjadi investor sejati dan menjauhi perilaku spekulasi. Sebelum membeli saham, Keng Hong mencermati fundamental emiten, mulai dari laporan keuangan, kemampuan mencetak laba, hingga prospek usaha ke depan. Kredibilitas dan integritas manajemen juga menjadi bahan pertimbangan. Sebab, baik atau buruknya kinerja perusahaan banyak bergantung kepada kredibilitas manajemen.

Dengan memahami aspek fundamental emiten, Keng Hong benar-benar memilih saham pilihan. Ia konsisten membeli saham yang memang dipahami. Ia tidak pernah mau membeli ‘kucing dalam karung’. Untuk bisa sukses, investor juga harus bisa hidup hemat, sabar, dan disiplin dalam berinvestasi.

Filosofi investasi ini sangat penting mengingat fluktuasi harga saham seringkali sangat ekstrem. Kesabaran dan ketekunan itulah yang menjadi kunci sukses Lo Keng Hong memupuk asetnya hingga bernilai Rp 2,5 triliun. Selain pendekatan fundamental ala Warren Buffett, investor bisa masuk ke pasar modal dengan mengedepankan aspek teknikal. Gaya teknikal ini sangat cocok bagi investor yang bermental trader.

Bagaimanapun, kehadiran trader sangat penting untuk menghidupkan bursa saham. Untuk menjadi trader sukses, investor harus disiplin menjalankan target keuntungan. Investor tidak boleh rakus mengejar keuntungan. Sebab, kerakusan akan menjadi sumber malapetaka.

Sekali lagi, disiplin adalah kunci sukses para trader. Guna meningkatkan jumlah investor domestik, otoritas bursa harus terus menerus melakukan sosialisasi dan edukasi. Kita membutuhkan media informasi pasar modal yang mudah diakses publik. Otoritas bursa perlu memperbanyak pusat informasi pasar modal di luar Jakarta dan pojok-pojok bursa di kampus-kampus. Langkah ini sangat penting mengingat penghuni kampus merupakan masa depan investor negeri ini.

Untuk menarik minat masyarakat berinvestasi di pasar modal, Indonesia membutuhkan lebih banyak lagi perusahaan yang mencatatkan sahamnya di bursa. Saat ini, Bursa Efek Indonesia baru menampung 454 emiten, jauh di bawah Malaysia yang memiliki sekitar 924 emiten dan India yang punya lebih dari 2.000 emiten. Dengan jumlah emiten yang banyak, investor memiliki beragam pilihan.

Kita berharap para investor tidak kapok untuk berinvestasi di pasar modal. Kegagalan hendaknya menjadi pemicu untuk belajar lebih giat demi mendulang untung. (*)

Kamis, 16 Januari 2014

Lo Kheng Hong: Saya Simpan Uang dengan Beli Saham

Headline
Lo Kheng Hong - (Foto:istimewa)
Oleh: Seno Tri Sulistiyono
pasarmodal - Kamis, 3 Oktober 2013 | 17:13 WIB

INILAH.COM, Jakarta - Lo Kheng Hong, salah satu investor sukses di pasar saham memberikan beberapa trik jika ingin berinvestasi di pasar modal.

"Membeli saham saya melihat perusahaan tersebut, bukan dari faktor makro. Jadi saya melihat apakah perusahaan tersebut bisa berkembang ke depannya atau tidak," kata Lo Kheng Hong saat ditemui di gedung Kresna Tower di Jakarta, Kamis (3/10/2013). Hari ini dia mendapat tugas menjadi Duta Kresna oleh PT Kresna Graha Securindo Tbk (KREN).

Menurut dia, berinvestasi di pasar modal lebih menjanjikan keuntungannya dibandingkan menyimpan uangnya di bank yang memang memiliki resiko rendah.

"Saya simpan uang, sedikit demi sedikit. Saya tidak menyimpan uang saya di bank tetapi saya membeli saham yang saya pikir perusahaan tersebut akan maju ke depannya dan harga sahamnya akan naik," tutur dia.

Lo Kheng Hong merupakan mantan pegawai tata usaha di salah satu bank swasta di Indonesia. Dia mulai masuk ke dunia pasar modal sejak 1989. Pengalamannya berinvestasi di pasar modal membuat dia memperoleh keuntungan ratusan ribu persen. Saat ini memiliki aset triliunan rupiah dalam bentuk saham. [hid]